10000 B.C

7 04 2008

10000 BC

D’Leh (Steve Strait) jatuh cinta kepada Evolet, “Gadis bermata biru” (Camilla Belle) muda dalam hidupnya. Melalui suatu rangkaian peristiwa bahwa kelihatannya lebih banyak kejadian kebetulan dibanding yang ditakdirkan, Evolet dicuri oleh pengembara-pengembara dengan kuda-kudanya. Ini “setan jahat berkaki empat” sedang membawa suatu kultur-kultur yang tidak dipalsukan dari Barat. Kiranya, D’Leh dan para pendukungnya berjalan dari Amerika Selatan ke Mesir untuk mendapatkan kembali rakyat mereka yang diculik. Ketika mereka berjalan, mereka teringat suku setelah suku yang yang telah pula dilucuti dari keluarga-keluarga mereka. Dengan cara aneh, tukang perintah membunuh orang yang tidak setuju, menculik yang patuh dan mengusir mereka keluar dari Dodge (Tidak ada pemerkosaan apapun juga.) Ketika D’Leh menunjukkan kapasitasnya untuk memimpin dan menemukan perjalanannya dalam keadaan terlalu suci untuk dikatakan, ia memimpin suatu pasukan; bala tentara yang besar dari orang berbagai suku, menghasut dan menimbulkan revolusi budak sehingga merobohkan dewa palsu yang memikat dan menekan mereka.

Film ini terdapat kesalahan-kesalahan yang dapat diketahui langsung oleh para ahli antropologi. Kadang-kadang ini suatu noda yang sedikit mengganggu seperti perkemahan yang tidak disengaja yang bertentangan dengan film.

Distributor: Warner Bros.

Cast: Steven Strait, Camilla Bell, Cliff Curtis and Omar Sharif

Director: Roland Emmerich

Screenwriter: Roland Emmerich and Harald Kloser

Producer: Roland Emmerich, Mark Gordon and Michael Wimer

Genre: Action/Adventure

Rating: PG-13 for sequences of intense action and violence

Running time: 109 min.

Iklan




Komentar Film “Ayat-Ayat Cinta”

7 04 2008

Ayat-Ayat Cinta
Setelah membaca novel karya Habiburahman Elsirazy ini, aku langsung membayangkan film yang diangkat akan sangat istimewa dan luar biasa seperti cerita di novel itu. Aku membayangkan adegan-adegan yang akan diambil dengan latar belakang kota Cairo dan tempat-tempat indah lainnya di Mesir. Setelah mendengar syuting tidak jadi di mesir dan digantikan di Jakarta, Semarang dan sebagian India, aku sudah menduga akan terjadi perbedaan yang cukup besar mengenai latar belakang film. Tetapi setelah mendengar alasan tidak jadi di Mesir karena masalah birokasi dan biaya yang mahal aku memakluminya, toh demikian hanya masalah tempat saja yang sedikit berbeda, maka aku tetap menantikan tanggal mainya dibioskop.

Setelah tanggal mainnya tiba, aku dengan teman spesialku langsung menuju ruang pembelian tiket, dan ternyata antriannya sangat panjang bahkan mengalahkan saat antri nonton Spiderman III yang lalu, akhirnya aku membatalkan rencana nonton film yang disutradarai Hanung Bramastyo ini. Suatu saat aku dikabari temanku kalau vcd AAC sudah beredar “dipasaran gelap” alias di beberapa tempat penyewaan. Lalu aku buru-buru ikut berburu film ini secara ilegal yaitu menyewa vcd ini direntalan cd tepatnya di seputaran jakal, Jogja. Setelah bersabar menunggu kesempatan menyewa film ini, akhirnya aku mendapatkannya dan langsung menontonya karena sangat penasaran sekali kenapa sampai wapres dan presiden dibela-belain nonton ini dibanding ngurusin negerinya.

Setelah menonton sampai habis aku kecewa berat karena kualitas film ini tidak sesuai dugaanku yang mengira akan lebih baik dan heboh dibanding novelnya atau minimal sama dengan cerita novelnya. Secara garis besar ceritanya sama dengan novel karena memang diambil dari cerita novelnya, tetapi jalan ceritanya seperti “terburu-buru” dan banyak kisah-kisah di novel yang dipotong agar memperpendek durasinya. Bahkan banyak tokoh-tokoh dinovel yang dihilangkan, seperti keluarga Maryam hanya ada ibunya padahal dinovel diceritakan juga ayahnya dan adik lelakinya yang bernama Yoesef. Lalu seorang polisi diflat mewah yang sering dibicarakan dinovel juga dilenyapkan. Dan sindiran-sindiran yang sedikit berbau politikpun ikut raib. Justru ada kisah tambahan tentang kehidupan poligami Fahri dengan Maryam yang tidak ada di novel. Sehingga film ini lebih mengutamakan kisah poligaminya.

Kesimpulannya, cerita film ini seperti film-film drama Indonesia yang sudah-sudah tidak menampilkan sesuatu yang baru, hanya lebih beraura islami dibanding film lainnya.