Komentar Film “Ayat-Ayat Cinta”

7 04 2008

Ayat-Ayat Cinta
Setelah membaca novel karya Habiburahman Elsirazy ini, aku langsung membayangkan film yang diangkat akan sangat istimewa dan luar biasa seperti cerita di novel itu. Aku membayangkan adegan-adegan yang akan diambil dengan latar belakang kota Cairo dan tempat-tempat indah lainnya di Mesir. Setelah mendengar syuting tidak jadi di mesir dan digantikan di Jakarta, Semarang dan sebagian India, aku sudah menduga akan terjadi perbedaan yang cukup besar mengenai latar belakang film. Tetapi setelah mendengar alasan tidak jadi di Mesir karena masalah birokasi dan biaya yang mahal aku memakluminya, toh demikian hanya masalah tempat saja yang sedikit berbeda, maka aku tetap menantikan tanggal mainya dibioskop.

Setelah tanggal mainnya tiba, aku dengan teman spesialku langsung menuju ruang pembelian tiket, dan ternyata antriannya sangat panjang bahkan mengalahkan saat antri nonton Spiderman III yang lalu, akhirnya aku membatalkan rencana nonton film yang disutradarai Hanung Bramastyo ini. Suatu saat aku dikabari temanku kalau vcd AAC sudah beredar “dipasaran gelap” alias di beberapa tempat penyewaan. Lalu aku buru-buru ikut berburu film ini secara ilegal yaitu menyewa vcd ini direntalan cd tepatnya di seputaran jakal, Jogja. Setelah bersabar menunggu kesempatan menyewa film ini, akhirnya aku mendapatkannya dan langsung menontonya karena sangat penasaran sekali kenapa sampai wapres dan presiden dibela-belain nonton ini dibanding ngurusin negerinya.

Setelah menonton sampai habis aku kecewa berat karena kualitas film ini tidak sesuai dugaanku yang mengira akan lebih baik dan heboh dibanding novelnya atau minimal sama dengan cerita novelnya. Secara garis besar ceritanya sama dengan novel karena memang diambil dari cerita novelnya, tetapi jalan ceritanya seperti “terburu-buru” dan banyak kisah-kisah di novel yang dipotong agar memperpendek durasinya. Bahkan banyak tokoh-tokoh dinovel yang dihilangkan, seperti keluarga Maryam hanya ada ibunya padahal dinovel diceritakan juga ayahnya dan adik lelakinya yang bernama Yoesef. Lalu seorang polisi diflat mewah yang sering dibicarakan dinovel juga dilenyapkan. Dan sindiran-sindiran yang sedikit berbau politikpun ikut raib. Justru ada kisah tambahan tentang kehidupan poligami Fahri dengan Maryam yang tidak ada di novel. Sehingga film ini lebih mengutamakan kisah poligaminya.

Kesimpulannya, cerita film ini seperti film-film drama Indonesia yang sudah-sudah tidak menampilkan sesuatu yang baru, hanya lebih beraura islami dibanding film lainnya.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: